فالاسم ما يَقْبَلُ أَلْ ، أو النداء ، أو الإِسْنَادَ إِليه
Isim adalah setiap yang bisa menerima al (أَلْ), bisa menerima huruf nida atau bisa di musnad ilaih-kan.
Ibnu Hisyam lebih memilih untuk mendefinisikan sesuatu
dengan menyebutkan tanda-tandanya atau ciri-cirinya, dari pada menyebutkan
definisi dengan batasan-batasannya, meskipun definisi dengan menyebutkan
batasan-batasannya itu lebih akurat dan lebih baku. Hal ini dalam rangka untuk
memudahkan pelajar pemula.
Definisi (Ta'rif) itu ada 3 macam :
1. Ta'rif bil had (batasan-batasannya) dengan jami' dan
mani'
2. Ta'rif alamat (tanda-tandanya)
2. Ta'rif na'un (menyebutkan jenisnya)
Ibnu Hisyam menyebutkan tanda isim itu ada 3 yang akan membedakan dengan Fi'il dan Huruf. Dengan tanda-tanda ini, maka kita bisa membedakan antara isim dengan yang bukan isim.
3 tanda isim yang dimaksud Adalah bahwa isim bisa menerima
al (أَلْ), bisa menerima huruf
nida dan bisa di musnad ilaih-kan.
Tanda isim yang pertama Adalah bisa menerima al (أَلْ)
1. al mu’arifah
2. al maushul
3. al zaidah (biasanya ada pada alam / nama)
4. al istifhamiyah (al nya aslinya adalah hal)
Ibnu Hisyam mengatakan lebih baik kita mengucapkan al, Daripada al-alifu wal-lamu. Seperti kalau kita menucapkan pada hal, Al-hau wal-lamu.
Ada faedah yang bagus, Bahwasanya kata Jika diletakkan di atas satu huruf Hijaiyah Seperti hamzah istifham, Ba' huruf jer, Huruf Wawu athaf, maka digunakan Lafadh Isim/huruf tersebut. (Lafadh untuk penamaan huruf tersebut sesuai pengucapan huruf hijaiyah).
Tapi kalau kata tersebut tersusun dari dua huruf atau lebih, maka diucapkan dengan namanya. Misalnya untuk pengucapan hal, maka diucapkan hal, bukan al-ha u wal lamu.
Tiga tanda ini tidak harus berkumpul tiga-tiganya baru dikatakan isim. Selama ada salah satu tanda dari 3 tanda diatas, maka kitab isa katakana bahwa kata tersebut Adalah isim. Karena ada isim yang Dia berstatus isim namun tidak bisa menerima Al Contohnya apa? Dhomir gak bisa menerima al, Isim isyarah juga tidak bisa menerima al.
Berkata abu tayyib (Mutanabbi) :
الخَيْلُ وَاللَّيْلُ وَالبَيْدَاءُ
تَعْرِفُنِي وَالسَّيْفُ وَالرَّمْحُ
وَالْقِرْطَاسُ وَالقَلَمُ
(Bahar : basit)
Beliau membawakan syair ini untuk memberikan contoh isim, pada bait syair diatas ada 7 isim yang semuanya memiliki ciri kemasukan al.
Makna dari syair diatas bahwasannya beliau mensifati dirinya
sendiri, dengan keberanian Dan hati yang teguh bahwa dia adalah seorang
penulis, penulis syair yang top.
Bagaimana dengan alif lam yang masuk ke fi'il pada ucapannya al-Farsdak (Laqab : Hammam bin Ghalib). Al-Farsdak adalah seorang penyair top, termasuk orang yang syairnya menjadi hujah. Menjadi argumen dalam merumuskan kaedah nahwu. Lihat syairnya dibawah ini :
مَا أَنْتَ بِالْحَكَمِ التَّرْضَى
حُكُومَتُهُ وَلَا الأُصِيلِ وَلَا
ذِي الرَّأْيِ وَالْجَدَل
(Bahar : basit)
Lihat pada kata التَّرْضَى,
dia termasuk fi'il. Tapi kenapa bisa kemasukan alif lam?
Menurut Ibnu Hisyam ada 2 alasan kenapa fi'il diatas bisa kemasukan alif lam :
1. Itu termasuk darurat syair.
Darurat syair itu ada yang boleh dan ada yang tercela. Dan
ini termasuk darurat syair yang tercela. Karena sampai menerjang kaidah.
Al-jurjani berkata kalau sampai alif lam masuk ke dalam
fi'il yang masuk pada selain syair, dengan kata lain yang masuk pada kalam
biasa, maka itu adalah Kesalahan yang nyata. Dan ini juga menurut kesepakatan
ahli nahwu. Dengan kata lain tidak bisa dikiaskan. Maksudnya kita tidak bisa
membuat kalam nasr dengan memasukkan alif-lam pada fi'il, dengan alasan ada
syair seperti ini.
2. Alif lam tersebut adalah al-maushulah, bukan
al-mu'arifah.
Tanda isim yang kedua Adalah bisa menerima huruf nida
Bagaimana Analisa kita terhadap bacaan Al-Kisai (Ali bin Hamzah Al-Kufi, Abul Hasan al-Kisai). Beliau termasuk pembesar Ali Nahwu Kufah. Beliau Imam Al-Nahwu Wal-Lughah, dan Beliau adalah menjadi salah satu dari Qura' tujuh yang masyhur.
Al-Kisai membaca firman Allah Ta'ala :
ألا يا اشجُدُوا لله
[QS.An-Naml : 25)
Ketika membaca ayat diatas, Beliau Wakafkan/Berhenti pada
kata ألا يا. Setelah berhenti,
kemudian beliau memulai bacaan اشجُدُوا
yang berupa fi'il amr (kata kerja perintah).
Bagaimana juga dengan firman Allah Ta'ala :
يٰلَيْتَنَا نُرَدُّ
(QS.Al-An'am :27)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda : يا رُبَّ كَاسِيَة في الدُّنْيَا عَارِيَّةٌ
يَوْمِ القِيامة
Apakah اشجُدُوا , لَيْتَ
dan رُبَّ itu isim? Karena
datang setelah huruf nida.
Ibnu Hisyam memberikan jawaban :
Hal tersebut diperselisihkan di atas dua madzhab, yaitu :
1. Adanya munada yang disembunyikan.
Jadi bukan اشجُدُوا , لَيْتَ dan رُبَّ yang munada, Tapi munadanya setelah huruf nida (huruf ya). Jika munadanya di sembunyikan, lalu takdirnya apa? Takdirnya adalah seperti dibawah ini :
يا هؤلاء اسجدوا (Munada/isimnya adalah : هؤلاء )
يا قوم ليتنا نرد (Munada/isimnya adalah : قوم )
يا قوم رب كاسية في الدنيا (Munada/isimnya adalah : قوم )
2. Madzhab kedua, bahwasannya huruf ya (يا) disitu bukan huruf nida, tetapi huruf tambih. Huruf tambih
bukan sebagai penanda bahwa setelahnya adalah isim, akan tetapi bisa huruf atau
fi'il.
Tafsir rincian yang disebutkan oleh Syekh Muhammad Muhyiddin
ini terambil dari tafsir yang disebutkan oleh Al-Imam Ibn Malik dalam kitabnya
At-Tasheel. Kitab Nahwu yang ditulis oleh Ibn Malik yang paling luas.
Tanda Isim yang ke-3 adalah Musnad ilaihi
Menisbatkan atau menyandarkan salah satu dari dua kata
kepada kata yang lain yang mana dengannya menjadi sempurna atau menggabungkan
satu kata dengan kata yang lain dalam bentuk kalam insya atau kalam khobar.
Berarti keluar darinya seperti penisbatan idhofiyah (mudhaf
- mudhaf ilaihi), karena dengan sebab idhofah belum sempurna. Tarqib yang
seperti ini dinamakan tarqib isnadi. Tarqib isnadi adalah susunan yang berupa
musnad dan musnad ilaihi, baik jumlah ismiyah maupun jumlah fi'liyah.
Kalau jumlah ismiyah maka musnad ilaih-nya adalah mubtada,
termasuk isim kana dan saudara-saudaranya atau isim inna dan
saudara-saudaranya. Tapi kalau jumlah fi'liyah, maka musnad ilaihnya adalah
fa'il atau na'ibul fa'il.
Definisi isnad ilaihi adalah di isnadkan atau disandarkan padanya apa yang menjadikan faidah atau maknanya sempurna dengannya. Sama saja apakah musnadnya adalah fi'il ataukah isim ataukah jumlah. Jadi musnad itu ada tiga yaitu fi'il, isim atau jumlah.
Contoh 1 : قام زيد
قام : musnad
زيد : musnad ilaihi
Jadi زيد adalah termasuk isim
dengan tandanya sebagai isnad ilaihi.
Contoh 2 : زيد أخوك
أخوك : musnad
زيد : musnad ilahnya
Contoh 3 : أنا قمت
أنا : musnad ilaihi
قم : musnad
ت : musnad ilahnya
قمت [jumlah fi'liyah] :
musnad
Bagaimana analisamu pada ucapan mereka,
Artinya : "Kamu mendengar Mu'aydi lebih baik daripada
engkau melihat Mu'aydi"
Orang-orang Arab mengisnadkan خَير
ke تَسْمَع pada ucapan diatas.
تَسْمَع بِالْمُعَيْدِي
: Musnad ilaihi
Ucapan diatas adalah kalam orang Fasih yaitu Al-Munjir disebutkan oleh Al-Mayudani dalam Majma'ul Amtsal. Ucapan ini menjadi Amthal. Dan biasanya orang Arab sudah lazim menggunakan kalimat diatas. Ada satu permasalahan pada ucapan diatas, yaitu pada kata تَسْمَع بِالْمُعَيْدِي kedudukan nya sebagai musnad ilaihi, sehingga seharusnya adalah isim, tetapi menurut kesepakatan ahli nahwu, kata تَسْمَع adalah fi'il.
Ibnu Hisyam memberikan 2 penjelasan, yaitu :
1. Ada أَنْ yang disembunyikan,
jadi makna sebenarnya adalah أَنْ تَسْمَع.
Kata Ibnu Malik Membuang sesuatu yang dimaklumi harus ada indikatornya. Untuk kasus ini indikatornya adalah adanya أَنْ, yaitu pada أَنْ تَرَاه. Jadi ada 2 أَنْ, yang pertama disembunyikan dan yang ke-2 dinampakkan.
2. Ada riwayat yang lain yaitu أَنْ
gak dibuang menjadi أَنْ تَسْمَع (manshub). Sehingga أَنْ تَسْمَع adalah mashdar
sharih, sehingga kedudukannya adalah isim.
Kata Syaikh Muhammad Muhyiddin ada 3 riwayat mengenai ungkapan diatas, yaitu :
1. Dengan menashab تَسْمَع.
Yang menashab kan adalah أَنْ al-masdariya al-mazkurah yang dimunculkan.
2. Dengan menashab تَسْمَع, tetapi أَنْ al-masdariya al-mudhmarah yang disembunyikan. Untuk riwayat yang ke-2 ini tidak disebutkan oleh Ibnu Hisyam, karena riwayat ini ada ishqal. Kaidahnya, jika amilnya (أَنْ) dibuang, seharusnya تَسْمَع sudah tidak terkena amalannya.
3. Seperti yang disebutkan Ibnu Hisyam, yaitu dengan
merafa'kan تَسْمَع, karena Ada أَنْ yang disembunyikan.
Isnad ilaihi adalah tanda isim yang paling bermanfaat dibandingkan alamat atau tanda-tanda isim yang lain. Dengan tanda ini bisa diketahui Status isimnya مَا , yang terdapat pada firman Allah Ta'ala :
Perhatikan penggalan ayat diatas! Jika kita melihat dua
tanda sebelumnya, yaitu isim bisa kemasukan al dan nida. Maka مَا pada ayat diatas tidak
bisa kemasukan al dan nida, padahal dia statusnya Adalah isim. Lalu tanda
isimnya apa?
Tanda isimnya Adalah Isnad ilaihi. Karena مَا sebagai mubtada'.
Sedangkan khabarnya adalah خَيْرٌ.
Dia adalah musnad dan disandarkan pada مَا.
Berarti مَا adalah musnad ilaih
berarti مَا adalah isim.
Perhatikan juga pada firman Allah Ta'ala :
مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِند
اللَّهِ بَاَقِ
Apa yang ada di sisimu akan habis, Dan apa yang ada di
sisi Allah Kekal.
Maka مَا yang ada pada ayat
diatas adalah isim, dengan tanda isnad ilaihi.
مَا mubtada' dan yanfadu
adalah khabar. Berarti yanfadu disandarkan pada مَا
. Berarti مَا adalah musnad ilaih,
sehingga dia statusnya isim.
بَاَقِ adalah isim fa'il berkedudukan sebagai khobar dan disandarkan kepada مَا yang berkedudukan sebagai mubtada'. sedangkan مَا adalah mubtada'. Bakin adalah musnad dan مَا adalah musnad ilaihi, sehingga مَا disini statusnya adalah isim.
Bahwa semua مَا
yang disebutkan pada 2 ayat diatas dihukumi sebagai Isim maushul yang semakna
dengan alladzi.
Demikian juga pada Firman Allah Ta'ala :
إِنَّمَا صَنَعُوا كَيد سحر
(QS.Thaha : 69)
مَا disini juga merupakan
isim maushul bermakna alladzi, sedangkan صَنَعُوا
adalah silah maushul. Kalau مَا adalah isim maushul,
berarti harus ada sillah maushul dan 'aid-nya. Untuk 'aid disini adalah
dihilangkan dan takdirnya adalah : إن الذي صنعوه.
مَا sebagai mubtada' dan كَيد adalah sebagai khabar. Berarti Sillah
maushulnya Berupa jumlah mubtada' dan khabar.
Tambahan Faidah tentang maushul. Bahwa Maushul ada dua.
1. Mausul ismi yang kita kenal dengan isim
2. Mausul harfi. Mausul harfi adalah huruf-huruf masdariyah.
Maushul harfi berserta jumlah yang terletak setelahnya bisa ditakwil menjadi
masdar muawwal.
Huruf-huruf masdar muawal ada :
1. Anna (isimnya + khabarnya adalah masdar muawwal)
2. an berarti setelahnya fi'il mudhari'
3. Ma masdariyah
Perbedaan maushul ismi dan maushul harfi :
1. Maushul ismi statusnya adalah isim, sedangkan maushul
harfi statusnya adalah huruf
2. maushul ismi + sillahnya bukan termasuk masdar muawwal,
sedangkan Maushul harfi + sillahnya ditakwil sebagai masdar muawwal
3. Maushul ismi punya 'aid, sedangkan Maushul harfi tidak
punya 'aid.
Persamaan maushul ismi dan maushul harfi :
- Sama-sama memiliki sillah maushul
Dua analisa I'rab pada firman Allah Ta'ala.
إِنَّمَا صَنَعُوا كَيد سحر
(QS.Thaha : 69)
1. مَا
bisa dianggap sebagai مَا maushullah
Apabila مَا dianggap sebagai مَا maushullah, berarti jumlah صَنَعُوا adalah jumlah sillah
yang tidak memiliki mahal I'rab. 'Aidnya makhduf dan takdirnya adalah صنعوه
2. مَا
dianggap huruf mausul harfi
Jika مَا dianggap sebagai huruf mausul harfi, maka jadilah dia مَا mausulah dan silahnya ditakwil sebagai masdar mu'awwal, dan mausul harfi tidak membutuhkan 'aid.
Kita tidak boleh menakdirkan مَا
sebagai harfan kaffan, yang kita kenal dengan مَا
alkafah. Yang mana statusnya dia sebagai huruf tambahan saja. Kenapa?
Karena konsekuensinya, KAidu nanti akan menjadi nashab
sebagai maf'ul bih nya sonangu. Sedangkan tidak ada Qari yang membaca demikian
(KAIDU dinashab). Jadi kesimpulannya, مَا disini tidak bisa ditakdirkan sebagai
harfun kaffun. Dan hanya boleh ditakdirkan sebagai maushul ismi dan maushul
harfi.
No comments:
Post a Comment