Saturday, December 13, 2025

Tanda-tanda Isim (علامات الاسم)

 

فالاسم ما يَقْبَلُ أَلْ ، أو النداء ، أو الإِسْنَادَ إِليه

Isim adalah setiap yang bisa menerima al (أَلْ), bisa menerima huruf nida atau bisa di musnad ilaih-kan.

Ibnu Hisyam lebih memilih untuk mendefinisikan sesuatu dengan menyebutkan tanda-tandanya atau ciri-cirinya, dari pada menyebutkan definisi dengan batasan-batasannya, meskipun definisi dengan menyebutkan batasan-batasannya itu lebih akurat dan lebih baku. Hal ini dalam rangka untuk memudahkan pelajar pemula.

Definisi (Ta'rif) itu ada 3 macam :

1. Ta'rif bil had (batasan-batasannya) dengan jami' dan mani'

2. Ta'rif alamat (tanda-tandanya)

2. Ta'rif na'un (menyebutkan jenisnya)

Ibnu Hisyam menyebutkan tanda isim itu ada 3 yang akan membedakan dengan Fi'il dan Huruf. Dengan tanda-tanda ini, maka kita bisa membedakan antara isim dengan yang bukan isim.

3 tanda isim yang dimaksud Adalah bahwa isim bisa menerima al (أَلْ), bisa menerima huruf nida dan bisa di musnad ilaih-kan.

 

Tanda isim yang pertama Adalah bisa menerima al (أَلْ)

 al / ال (alif lam) ada 4 jenis :

1. al mu’arifah

2. al maushul

3. al zaidah (biasanya ada pada alam / nama)

4. al istifhamiyah (al nya aslinya adalah hal)

Ibnu Hisyam mengatakan lebih baik kita mengucapkan al, Daripada al-alifu wal-lamu. Seperti kalau kita menucapkan pada hal, Al-hau wal-lamu.

Ada faedah yang bagus, Bahwasanya kata Jika diletakkan di atas satu huruf Hijaiyah Seperti hamzah istifham, Ba' huruf jer, Huruf Wawu athaf, maka digunakan Lafadh Isim/huruf tersebut. (Lafadh untuk penamaan huruf tersebut sesuai pengucapan huruf hijaiyah).

Tapi kalau kata tersebut tersusun dari dua huruf atau lebih, maka diucapkan dengan namanya. Misalnya untuk pengucapan hal, maka diucapkan hal, bukan al-ha u wal lamu.

Tiga tanda ini tidak harus berkumpul tiga-tiganya baru dikatakan isim. Selama ada  salah satu tanda dari 3 tanda diatas, maka kitab isa katakana bahwa kata tersebut Adalah isim. Karena ada isim yang Dia berstatus isim namun tidak bisa menerima Al Contohnya apa? Dhomir gak bisa menerima al, Isim isyarah juga tidak bisa menerima al.

Berkata abu tayyib (Mutanabbi) :

الخَيْلُ وَاللَّيْلُ وَالبَيْدَاءُ تَعْرِفُنِي     وَالسَّيْفُ وَالرَّمْحُ وَالْقِرْطَاسُ وَالقَلَمُ     

(Bahar : basit)

Beliau membawakan syair ini untuk memberikan contoh isim, pada bait syair diatas ada 7 isim yang semuanya memiliki ciri kemasukan al.

Makna dari syair diatas bahwasannya beliau mensifati dirinya sendiri, dengan keberanian Dan hati yang teguh bahwa dia adalah seorang penulis, penulis syair yang top.

Bagaimana dengan alif lam yang masuk ke fi'il pada ucapannya al-Farsdak (Laqab : Hammam bin Ghalib). Al-Farsdak adalah seorang penyair top, termasuk orang yang syairnya menjadi hujah. Menjadi argumen dalam merumuskan kaedah nahwu. Lihat syairnya dibawah ini :

مَا أَنْتَ بِالْحَكَمِ التَّرْضَى حُكُومَتُهُ       وَلَا الأُصِيلِ وَلَا ذِي الرَّأْيِ وَالْجَدَل

(Bahar : basit)

Lihat pada kata التَّرْضَى, dia termasuk fi'il. Tapi kenapa bisa kemasukan alif lam?

Menurut Ibnu Hisyam ada 2 alasan kenapa fi'il diatas bisa kemasukan alif lam :

1. Itu termasuk darurat syair.

Darurat syair itu ada yang boleh dan ada yang tercela. Dan ini termasuk darurat syair yang tercela. Karena sampai menerjang kaidah.

Al-jurjani berkata kalau sampai alif lam masuk ke dalam fi'il yang masuk pada selain syair, dengan kata lain yang masuk pada kalam biasa, maka itu adalah Kesalahan yang nyata. Dan ini juga menurut kesepakatan ahli nahwu. Dengan kata lain tidak bisa dikiaskan. Maksudnya kita tidak bisa membuat kalam nasr dengan memasukkan alif-lam pada fi'il, dengan alasan ada syair seperti ini.

2. Alif lam tersebut adalah al-maushulah, bukan al-mu'arifah.

 

Tanda isim yang kedua Adalah bisa menerima huruf nida

Bagaimana Analisa kita terhadap bacaan Al-Kisai (Ali bin Hamzah Al-Kufi, Abul Hasan al-Kisai). Beliau termasuk pembesar Ali Nahwu Kufah. Beliau Imam Al-Nahwu Wal-Lughah, dan Beliau adalah menjadi salah satu dari Qura' tujuh yang masyhur.

Al-Kisai membaca firman Allah Ta'ala :

ألا يا اشجُدُوا لله [QS.An-Naml : 25)

Ketika membaca ayat diatas, Beliau Wakafkan/Berhenti pada kata ألا يا. Setelah berhenti, kemudian beliau memulai bacaan اشجُدُوا yang berupa fi'il amr (kata kerja perintah).

Bagaimana juga dengan firman Allah Ta'ala :

يٰلَيْتَنَا نُرَدُّ (QS.Al-An'am :27)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda : يا رُبَّ كَاسِيَة في الدُّنْيَا عَارِيَّةٌ يَوْمِ القِيامة

Apakah اشجُدُوا , لَيْتَ dan رُبَّ itu isim? Karena datang setelah huruf nida.


Ibnu Hisyam memberikan jawaban :

Hal tersebut diperselisihkan di atas dua madzhab, yaitu :

1. Adanya munada yang disembunyikan.

Jadi bukan  اشجُدُوا , لَيْتَ dan رُبَّ yang munada, Tapi munadanya setelah huruf nida (huruf ya). Jika munadanya di sembunyikan, lalu takdirnya apa? Takdirnya adalah seperti dibawah ini :

يا هؤلاء اسجدوا  (Munada/isimnya adalah : هؤلاء )

يا قوم ليتنا نرد  (Munada/isimnya adalah : قوم )

يا قوم رب كاسية في الدنيا  (Munada/isimnya adalah : قوم )

 

2. Madzhab kedua, bahwasannya huruf ya (يا) disitu bukan huruf nida, tetapi huruf tambih. Huruf tambih bukan sebagai penanda bahwa setelahnya adalah isim, akan tetapi bisa huruf atau fi'il.

 Berkata Syekh Muhammad Muhyiddin bahwasannya ada sebuah kaidah penting yang perlu digaris bawahi : Jika kita mendapati huruf nida, setelahnya ada fi'il amr atau jumlah dua'iyah, maka kita bisa ketahui, bahwa munada yang kemasukan huruf nida telah dibuang. Tapi kalau setelah huruf ya (يا), itu ada kata  لَيْتَ dan رُبَّ , maka huruf ya tersebut adalah huruf tambih, bukan huruf nida.

Tafsir rincian yang disebutkan oleh Syekh Muhammad Muhyiddin ini terambil dari tafsir yang disebutkan oleh Al-Imam Ibn Malik dalam kitabnya At-Tasheel. Kitab Nahwu yang ditulis oleh Ibn Malik yang paling luas.

 

Tanda Isim yang ke-3 adalah Musnad ilaihi

Menisbatkan atau menyandarkan salah satu dari dua kata kepada kata yang lain yang mana dengannya menjadi sempurna atau menggabungkan satu kata dengan kata yang lain dalam bentuk kalam insya atau kalam khobar.

Berarti keluar darinya seperti penisbatan idhofiyah (mudhaf - mudhaf ilaihi), karena dengan sebab idhofah belum sempurna. Tarqib yang seperti ini dinamakan tarqib isnadi. Tarqib isnadi adalah susunan yang berupa musnad dan musnad ilaihi, baik jumlah ismiyah maupun jumlah fi'liyah.

Kalau jumlah ismiyah maka musnad ilaih-nya adalah mubtada, termasuk isim kana dan saudara-saudaranya atau isim inna dan saudara-saudaranya. Tapi kalau jumlah fi'liyah, maka musnad ilaihnya adalah fa'il atau na'ibul fa'il.

Definisi isnad ilaihi adalah di isnadkan atau disandarkan padanya apa yang menjadikan faidah atau maknanya sempurna dengannya. Sama saja apakah musnadnya adalah fi'il ataukah isim ataukah jumlah. Jadi musnad itu ada tiga yaitu fi'il, isim atau jumlah.

 

Contoh 1 : قام زيد

قام  : musnad

زيد : musnad ilaihi

Jadi زيد adalah termasuk isim dengan tandanya sebagai isnad ilaihi.

 

Contoh 2 : زيد أخوك

أخوك : musnad

زيد : musnad ilahnya

 

Contoh 3 : أنا قمت

أنا : musnad ilaihi

قم : musnad

ت : musnad ilahnya

قمت [jumlah fi'liyah] : musnad

 

Bagaimana analisamu pada ucapan mereka,

 تَسْمَع بِالْمُعَيْدِي خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَرَاهُ

Artinya : "Kamu mendengar Mu'aydi lebih baik daripada engkau melihat Mu'aydi"

 

Orang-orang Arab mengisnadkan خَير ke تَسْمَع pada ucapan diatas.

 خَير : Khabar = Musnad

تَسْمَع بِالْمُعَيْدِي : Musnad ilaihi

Ucapan diatas adalah kalam orang Fasih yaitu Al-Munjir disebutkan oleh Al-Mayudani dalam Majma'ul Amtsal. Ucapan ini menjadi Amthal. Dan biasanya orang Arab sudah lazim menggunakan kalimat diatas. Ada satu permasalahan pada ucapan diatas, yaitu pada kata تَسْمَع بِالْمُعَيْدِي kedudukan nya sebagai musnad ilaihi, sehingga seharusnya adalah isim, tetapi  menurut kesepakatan ahli nahwu, kata تَسْمَع adalah fi'il.

 

Ibnu Hisyam memberikan 2 penjelasan, yaitu :

1. Ada أَنْ yang disembunyikan, jadi makna sebenarnya adalah أَنْ تَسْمَع.

Kata Ibnu Malik Membuang sesuatu yang dimaklumi harus ada indikatornya. Untuk kasus ini indikatornya adalah adanya أَنْ, yaitu pada أَنْ تَرَاه. Jadi ada 2 أَنْ, yang pertama disembunyikan dan yang ke-2 dinampakkan.

2. Ada riwayat yang lain yaitu أَنْ gak dibuang menjadi أَنْ تَسْمَع (manshub). Sehingga أَنْ تَسْمَع adalah mashdar sharih, sehingga kedudukannya adalah isim.

 

Kata Syaikh Muhammad Muhyiddin ada 3 riwayat mengenai ungkapan diatas, yaitu :

1. Dengan menashab تَسْمَع.

Yang menashab kan adalah أَنْ al-masdariya al-mazkurah yang dimunculkan.

2. Dengan menashab تَسْمَع, tetapi أَنْ al-masdariya al-mudhmarah yang disembunyikan. Untuk riwayat yang ke-2 ini tidak disebutkan oleh Ibnu Hisyam, karena riwayat ini ada ishqal. Kaidahnya, jika amilnya (أَنْ) dibuang, seharusnya تَسْمَع sudah tidak terkena amalannya.

3. Seperti yang disebutkan Ibnu Hisyam, yaitu dengan merafa'kan تَسْمَع, karena Ada أَنْ yang disembunyikan.

Isnad ilaihi adalah tanda isim yang paling bermanfaat dibandingkan alamat atau tanda-tanda isim yang lain. Dengan tanda ini bisa diketahui Status isimnya مَا , yang terdapat pada firman Allah Ta'ala :

 قُلْ مَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْدِ وَمِنَ الجَرَة (QS.Al-Jumu'ah : 11)

Perhatikan penggalan ayat diatas! Jika kita melihat dua tanda sebelumnya, yaitu isim bisa kemasukan al dan nida. Maka مَا pada ayat diatas tidak bisa kemasukan al dan nida, padahal dia statusnya Adalah isim. Lalu tanda isimnya apa?

Tanda isimnya Adalah Isnad ilaihi. Karena مَا sebagai mubtada'.

Sedangkan khabarnya adalah خَيْرٌ. Dia adalah musnad dan disandarkan pada مَا. Berarti مَا adalah musnad ilaih berarti مَا adalah isim.

 

Perhatikan juga pada firman Allah Ta'ala :

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِند اللَّهِ بَاَقِ

Apa yang ada di sisimu akan habis, Dan apa yang ada di sisi Allah Kekal.

 

Maka مَا yang ada pada ayat diatas adalah isim, dengan tanda isnad ilaihi.

مَا mubtada' dan yanfadu adalah khabar. Berarti yanfadu disandarkan pada مَا . Berarti مَا adalah musnad ilaih, sehingga dia statusnya isim.

بَاَقِ adalah isim fa'il berkedudukan sebagai khobar dan disandarkan kepada مَا yang berkedudukan sebagai mubtada'. sedangkan مَا adalah mubtada'. Bakin adalah musnad dan مَا adalah musnad ilaihi, sehingga مَا disini statusnya adalah isim.

Bahwa semua مَا yang disebutkan pada 2 ayat diatas dihukumi sebagai Isim maushul yang semakna dengan alladzi.

Demikian juga pada Firman Allah Ta'ala :

إِنَّمَا صَنَعُوا كَيد سحر (QS.Thaha : 69)

مَا disini juga merupakan isim maushul bermakna alladzi, sedangkan صَنَعُوا adalah silah maushul. Kalau مَا adalah isim maushul, berarti harus ada sillah maushul dan 'aid-nya. Untuk 'aid disini adalah dihilangkan dan takdirnya adalah : إن الذي صنعوه.

مَا  sebagai mubtada' dan كَيد adalah sebagai khabar. Berarti Sillah maushulnya Berupa jumlah mubtada' dan khabar.

 

Tambahan Faidah tentang maushul. Bahwa Maushul ada dua.

1. Mausul ismi yang kita kenal dengan isim

2. Mausul harfi. Mausul harfi adalah huruf-huruf masdariyah. Maushul harfi berserta jumlah yang terletak setelahnya bisa ditakwil menjadi masdar muawwal.

 

Huruf-huruf masdar muawal ada :

1. Anna (isimnya + khabarnya adalah masdar muawwal)

2. an berarti setelahnya fi'il mudhari'

3. Ma masdariyah

 

Perbedaan maushul ismi dan maushul harfi :

1. Maushul ismi statusnya adalah isim, sedangkan maushul harfi statusnya adalah huruf

2. maushul ismi + sillahnya bukan termasuk masdar muawwal, sedangkan Maushul harfi + sillahnya ditakwil sebagai masdar muawwal

3. Maushul ismi punya 'aid, sedangkan Maushul harfi tidak punya 'aid.

 

Persamaan maushul ismi dan maushul harfi :

- Sama-sama memiliki sillah maushul

Dua analisa I'rab pada firman Allah Ta'ala.

إِنَّمَا صَنَعُوا كَيد سحر (QS.Thaha : 69)

1. مَا bisa dianggap sebagai مَا maushullah

Apabila مَا dianggap sebagai مَا maushullah, berarti jumlah صَنَعُوا adalah jumlah sillah yang tidak memiliki mahal I'rab. 'Aidnya makhduf dan takdirnya adalah صنعوه

 

2. مَا dianggap huruf mausul harfi

Jika مَا dianggap sebagai huruf mausul harfi, maka jadilah dia مَا mausulah dan silahnya ditakwil sebagai masdar mu'awwal, dan mausul harfi tidak membutuhkan 'aid.

Kita tidak boleh menakdirkan مَا sebagai harfan kaffan, yang kita kenal dengan مَا alkafah. Yang mana statusnya dia sebagai huruf tambahan saja. Kenapa?

Karena konsekuensinya, KAidu nanti akan menjadi nashab sebagai maf'ul bih nya sonangu. Sedangkan tidak ada Qari yang membaca demikian (KAIDU dinashab). Jadi kesimpulannya,  مَا disini tidak bisa ditakdirkan sebagai harfun kaffun. Dan hanya boleh ditakdirkan sebagai maushul ismi dan maushul harfi.

Monday, December 1, 2025

Pembagian Kalimat (أقسام الكلمة)

الكلمة هي اسم ، وفعل ، وحَرْفٌ 

Ahli nahwu bersepakat bahwa kalimah (kata) itu terbagi menjadi 3 macam yaitu isim, fi'il dan huruf. Akan tetapi ada Ahli nahwu lainnya yaitu Ja'far bin Sobir, Dia berpendapat bahwa kalimah atau kata itu ada empat macam yaitu Isim, fi'il, huruf dan yang nomor empat adalah Khalifah.

Dia menyangka bahwa itulah yang dinamai oleh mayoritas ahli nahwu dengan isim fi'il. Contohnya seperti هَيْهَاتَ dan صَهْ dan أُفٍّ yang maknanya adalah بَعُدَ (jauh) dan اُسْكُتْ (diamlah) dan أَتَضَجَّرُ (saya mengeluh/kesal).

Ketika ucapannya ini tidak diberhitungkan dalam keabsahan sebuah pendapat, maka penulis (Ibnu Hisyam) menganggap Khilafnya Ja'far yang berbeda dengan mayoritas ahli nahwu itu tidak dianggap.

Dalil Pembatasan Kalimah Menjadi Tiga

Dalil itu ada 2 macam yaitu dalil aqli dan dalil naqli. Ibnu Hisyam menulis 2 kitab yang selevel yaitu kitab Qatrunada dan Syudzuru Dzahab. Qatrunada disusun dengan metode satu arus dengan umumnya kitab-kitab Nahwu, sedangkan untuk kitab Syudzuru Dzahab disusun dengan metode berlawanan arus dengan umumnya kitab-kitab Nahwu.

Di Qatrunada beliau menyebutkan dalil tentang pembatasan pembagian kata menjadi tiga itu beliau membawakan dalil naqli, sebagaimana umumnya kitab-kitab Nahwu. Sedangkan pada kitab Syudzuru Dzahab, beliau membawakan dalil akli. 

Apa konsekuensi dalil aqli? 

Kata Ibnu Hisyam membawakan ucapan Ibnu Khabbas, konsekuensinya kalau pakai dalil aqli adalah apa? Klasifikasi bahwasannya kalimat dibagi menjadi tiga itu tidak hanya ada dalam bahasa Arab saja, tapi ada juga bahasa selain bahasa Arab. Karena dalil yang menunjukkan terbatasnya pembagian kata menjadi tiga adalah dalil aqli. Dan perkara-perkara yang bersifat aqli (bersifat akal), tidak berbeda-beda dengan sebab berbedanya bahasa.

1. Dalil yang pertama tentang pembatasan kalimah menjadi tiga (isim, fi'il & huruf) adalah bahwasannya makna-makna itu ada tiga. Pertama makna dzat, kedua makna hadast dan ketiga adalah rabitah, yaitu penghubung antara hadast dengan dzat. Maka dzat adalah isim, hadats adalah fi'il, dan rabitoh adalah huruf.

2. Dalil yang kedua, bahwasannya :

ما دل على معنى في نفسه غير مقترن بأحد الأزمنة الثلاثة

Kalimat yang menunjukkan makna pada dirinya sendiri dan tidak berkaitan dengan salah satu waktu yang tiga (lampau, sekarang dan akan datang), maka dinamakan isim.

ما دل على معنى في نفسه مقترن بأحد الأزمنة الثلاثة

Kalimat yang menunjukkan makna pada dirinya sendiri dan berkaitan dengan salah satu waktu yang tiga (lampau, sekarang dan akan datang), maka dinamakan fi'il.

ما دل على معنى في غيره

Kalimat yang menunjukkan makna pada selainnya (selain isim dan fi'il), maka dinamakan huruf.

Ahmad bin Hussein Ibn Ahmad al-Musili, Abu Abdullah Husamuddin ibn Hubbas (Ibnu Khabbas). Beliau salah satu orang yang sangat alim dalam Nahwu, ilmu arut, dan bahkan fiqih. Beliau menulis syarah terhadap Alfiyah Ibnu Mu'ti. Alfiyah Ibnu Mu'ti itu Alfiyah dalam ilmu Nahwusorof sebelum Alfiyah Ibnu Malik. Beliau wafat di tahun 639 Hijriyah. Dia berkata bahwa kalimah terbagi menjadi tiga itu tidak terbatas pembagian dalam bahasa Arab. Karena dalil yang menunjukkan terbatasnya kalimah menjadi tiga itu dalil secara akal. Sedangkan perkara-perkara yang bersifat akal, maka tidak akan berbeda dengan adanya perbedaan bahasa.

Jadi tujuan Ibu Hisyam membawakan ucapan Ibnu Khabbas adalah untuk menunjukkan bahwa pendalilan yang beliau sebutkan adalah dalil aqli. 

Sebuah faedah disebutkan di Hasyiyah Ubadah...

Kata Syaikh Muhammad Ubadah Al-Adawi, Dalil Aqli ini lebih sempurna. Alasanya apa? Karena kalau dalil naqli itu sifatnya hanya persangkaan, bukan ilmu yang meyakinkan. Artinya dia tidak memberi faedah ilmu yang meyakinkan.

Yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad Ubadah Al-Adawi ini adalah cara berpikirnya atau madhabnya orang-orang mantek. Biasanya ahli kalam banyak menggunakan dalil aqli. Tapi kalau fuqoha, termasuk para ulama di kitab-kitab akidah itu, dalil nakli yang memberi faedah meyakinkan. Sementara dalil akli harus didukung dalil nakli, dan harus sejalan dengan dalil nakli.

Nah, apakah Ibnu Isyam condong kepada dalil Akli dan mengesampingkan dalil nakli? Jawabannya tidak. Karena beliau menyebutkan dua dalil sekaligus, yang mana disebutkan di dua kitab yang berbeda. Dalil nakli beliau sebutkan di Qotrun Nada, dalil akli beliau sebutkan di Syudzuru Dzahab. 

Kita sudah membaca penjelasan Ibn Hisham tentang apa itu pembagian kalimah kata dalam bahasa Arab itu terbagi menjadi tiga isim fiil dan huruf. dan dalil pembatasan ini dimana dalilnya adalah dalil akli beliau menyebutkan dalil akli berbeda dengan di kitabnya syarah qatrun nada beliau menyebutkan dalil nakli dalil nakli.


Definisi Isim, Fi'il dan Huruf

Setiap masing-masing dari tiga jenis kata ini (yaitu isim, fi'in dan huruf) memiliki makna istilahi (istilah) dan lughawi (bahasa). Untuk makna istilahi, harus mengandung 2 sifat yaitu mengumpulkan (جامع) dan mengeluarkan (مانع).


Makna Isim secara istilahi : 

ما دل على معنى في نفسه غير مقترن بأحد الأزمنة الثلاثة

Kalimat yang menunjukkan makna pada dirinya sendiri dan tidak berkaitan dengan salah satu waktu yang tiga (lampau, sekarang dan akan datang)


Makna Isim secara lughah : 

سمَةُ الشيء : أَي : علامته

Tanda sesuatu


Makna Fi'il secara istilahi : 

ما دل على معنى في نفسه مقترن بأحد الأزمنة الثلاثة

Kalimat yang menunjukkan makna pada dirinya sendiri dan berkaitan dengan salah satu waktu yang tiga (lampau, sekarang dan akan datang)


Makna Fi'il secara lughah : 

نفس الحدث الذي يحدثه الفاعل

Hadats itu sendiri yang dimunculkan oleh pelaku (fa'il)


Makna Huruf secara istilahi : 

ما دل على معنى في غيره

Kalimat yang menunjukkan makna pada selainnya (selain isim dan fi'il)


Makna Huruf secara lughah :

طرف الشيء

Sisi sesuatu atau satu sisi saja.


Isim itu secara bahasa bermakna asumuh. Jadi ada tiga makna. 

1. Simatu syai yaitu alamatu syai yanga artinya tanda sesuatu.

2. Sumuwun (menurut ulama Nahwu Basrah)

3. Wasmun (menurut ulama Nahwu Kuffah)

Dalam pembahasan huruf, Ibnu Hisyam membawakan nukilan ayat Al-Qur'an yaitu suran Al-Hajj : 11, seperti dibawah ini :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّعْبُدُ اللّٰهَ عَلٰى حَرْفٍۚ فَاِنْ اَصَابَهٗ خَيْرُ ࣙاطْمَـَٔنَّ بِهٖۚ وَاِنْ اَصَابَتْهُ فِتْنَةُ ࣙانْقَلَبَ عَلٰى وَجْهِهٖۗ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةَۗ ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ

Artinya : "Di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi (tidak dengan penuh keyakinan). Jika memperoleh kebaikan, dia pun tenang. Akan tetapi, jika ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang (kembali kufur). Dia merugi di dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang nyata."

Setelah nukilan ayat Al-Qur'an, biasanya diucapkan al-ayah (الأية), i'rab untuk al-ayah bisa 3 macam :

1. Dibaca al-ayata (manshub)

Ditakdirkan ada fiil setelahnya yang makhduf, yaitu istamir al-ayatah (lanjutkan sendiri ayatnya)

2. Dibaca al-ayatu (marfu')

3. Dibaca al-ayati (majrur)

Berarti ada huruf jer sebelumnya dan ism majrur yang dia mudhaf, yaitu ila akhiril ayati. Ila akhiri-nya dibuang menyisakan al-ayati.

Apa maknanya beribadah kepada Allah 'ala taraf / 'ala harfin Yaitu di atas satu bagian atau satu sisi dalam agamanya.

Jadi mereka beribadah kepada Allah, Tidak masuk ke dalam agama di atas kekokohan dan keteguhan. Maka Dia yang beribadah kepada Allah jika ditimpa kebaikan Misalnya berupa kesehatan, banyaknya harta dan selain keduanya, selain sehat dan banyak harta, Dia merasa tenang/hidupnya tenang. Tapi jika ditimpa fitnah/keburukan, seperti sakit, kefakiran atau selain keduanya, maka dia berbalik wajahnya, Berubah wajahnya.

I'rab dari penggalan Suratt Al-Hajj ayat 11 : وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّعْبُدُ اللّٰهَ عَلٰى حَرْفٍۚ 


الواو : Huruf athaf

من : Huruf Jar, menunjukkan sebagian

ال : alif lam jinsiyyah, Untuk memakrifatkan isim jenis

النَّاسِ : Majrur karena huruf jar yaitu مِنَ

مِنَ النَّاسِ : fi mahali rof'in sebagai khobar

مَنْ : ada dua i'rab, yang pertama jika ditakdirkan nakirah, maka kedudukannya sebagai mubtada muakhor yang mana khabarnya adalah jar majrur (مِنَ النَّاسِ). Jika ditakdirkan ma'rifat, maka kedudukan man sebagai isim maushul yang bermakna alladzi (اللذ), sedangkan silah maushulnya adalah jumlah fi'liyah (يَّعْبُدُ اللّٰهَ) dan sekaligus menjadi na'at.

يَّعْبُدُ  : Fi'il mudhari manshub karena tidak ada amil nashab dan jazm

اللّٰهَ : Maf'ul bihi manshub

يَّعْبُدُ اللّٰهَ : Sebagai silah maushul dari مَنْ, Jika ditakdirkan makrifat. Analisa ke-2 sebagai sifat dari مَنْ jika مَنْ ditakdirkan nakirah

عَلٰى : Huruf jar

حَرْفٍۚ : Majrur dengan huruf jar عَلٰى 


Pada penggalan ayat diatas, yaitu pada penggalan ayat : 

خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةَۗ

Sebagian ada yang membaca وَالْاٰخِرَةِ yaitu dengan meng-jar kan harakat akhir (kasrah). Jadi dibacanya wal akhirati. Ini termasuk Qira'ah gharibah (Bacaan yang asing), karena dia kira'ah yang dinisbatkan ke selain qira'ah yang tujuh.

Arahan I'rab menurut Ibnu Hisyam

Lihat pada kata خَسِرَ, Dia bukan fi'l-madi yang mabni diatas fathah, melainkan dia adalah isim sifat yang nasab sebagai hal. Jadi, arti dari penggalan diatas adalah "...dia berpaling dari Allah dalam keadaan merugi dunia dan akhiratnya."

Kata خَسِرَ, adalah sifat musyabahah yang nashab. Dan dia mudhaf. Berarti الدُّنْيَا sebagai mudhaf ilaih yang majrur. Maka  وَالْاٰخِرَةِ juga majur, karena ada wawu athaf. 

Definisi Kalam

   الْكَلَامُ قَولٌ مُفِيدٌ مَقْصُودٌ   Kalam adalah ucapan yang memberikan faedah yang sempurna yang ada maksudnya. Jika bukan ucapan...